Artikel

kopiah

Fez ( peci )merah dengan rumbai biru adalah hiasan kepala standar dari angkatan darat Turki dari tahun 1840-an sampai diperkenalkannya seragam pelayan khaki dan helm pelindung pada tahun 1910. Satu-satunya pengecualian yang signifikan yang kavaleri dan beberapa unit artileri yang mengenakan topi kulit domba dengan kain berwarna tops. Tentara Albania juga mengenakan fez jenis ini tetapi denga warna putih. Selama Perang Dunia I fez itu masih dipakai oleh beberapa unit cadangan angkatan laut dan kadang-kadang oleh tentara ketika bertugas.

The Evzones resimen Angkatan Darat Yunani memakai versi khas fez dari 1837 sampai Perang Dunia II. Sekarang bertahan di seragam parade Pengawal Presiden di Athena.

kopiahfez pada pertengahan abad ke-19  mulai diadopsi secara luas sebagai hiasan kepala. Resimen Perancis – Afrika Utara (Zouaves, Tirailleurs, dan Spahis) mengenakan fez yang lebar, berwarna merah dengan jumbai berurai dari berbagai warna.

Batalyon Libya dan skuadron pasukan kolonial Italia mengenakan fez pendek, berwarna merah lebih topi tengkorak putih.

Resimen Somalia dan Eritrea dalam pelayanan Italia mengenakan fezzes merah tinggi dengan jumbai berwarna yang bervariasi sesuai dengan unit.

Askaris Jerman di Afrika Timur mengenakan fezzes mereka dengan khaki mencakup di hampir semua kesempatan.

Belgia Angkatan Publique di Kongo mengenakan fezzes merah besar dan floppy mirip dengan Perancis Tirailleurs Sénégalais dan Portugis Companhias indigenas.

Afrika Rifles Inggris Raja (direkrut di Afrika Timur) mengenakan tinggi fezzes lurus-sisi baik merah atau hitam, sedangkan Afrika Barat Frontier Angkatan mengenakan versi merah rendah.

Mesir Tentara mengenakan model klasik Turki sampai 1950.

The West India Resimen Angkatan Darat Inggris mengenakan fez sebagai bagian dari Zouave-gaya berpakaian penuh sampai unit ini bubar pada tahun 1928. Tradisi ini dilanjutkan dalam gaun penuh band dari Barbados Resimen, dengan sorban putih melilit dasar.

Sementara fez itu item berwarna-warni dan indah seragam itu dalam beberapa cara sebuah hiasan kepala tidak praktis. Jika dipakai tanpa penutup menjemukan itu membuat kepala target untuk tembakan musuh, dan itu memberikan sedikit perlindungan dari matahari.

Akibatnya, itu semakin terdegradasi ke parade atau off-tugas pakai oleh Perang Dunia II, meskipun tirailleurs Afrika Perancis Barat terus memakai versi khaki tertutup di lapangan sampai sekitar 1943. Selama periode akhir pemerintahan kolonial di Afrika ( sekitar 1945-1962) fez itu terlihat hanya sebagai item penuh gaun di Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol dan Afrika unit Portugis digantikan oleh topi bertepi lebar atau topi hijauan pada kesempatan lain. Pasukan polisi kolonial, namun, biasanya dipertahankan fez sebagai pakaian tugas normal untuk personel asli.

Tentara pasca kemerdekaan di Afrika membuang fez merekakarena disebut sebagai peninggalan kolonial. Namun nyatanya fez masih dipakai oleh seremonial Gardes Rouge di Senegal sebagai bagian dari mereka seragam gaya Spahi

Bersaglieri Italia mengadopsi fez sebagai hiasan kepala informal yang melalui pengaruh Zouaves Perancis, dengan siapa mereka bertugas di Perang Crimean.

Arditi Italia di Perang Dunia pertama mengenakan fez hitam (songkok hitam) yang kemudian menjadi item seragam rezim fasis Mussolini.

The Regulares Spanyol (sebelumnya Moor) Tabors ditempatkan di exclaves Spanyol Ceuta dan Melilla, di Afrika Utara, mempertahankan seragam parade yang mencakup fez dan jubah putih.

Unit Filipina di hari-hari awal US memerintah secara singkat mengenakan fezzes hitam.

The Liberia Frontier Force, meskipun tidak kekuatan kolonial, mengenakan fezzes sampai tahun 1940-an.

Sebagian besar tentara muslim Bosnia dari 13th Waffen Divisi Gunung SS Handschar, yang direkrut dari Bosnia, menggunakan fez abu-abu merah atau dengan Waffen SS cap lencana pada paruh kedua Perang Dunia II. Resimen infanteri Bosnia di bekas Kekaisaran Austria-Hungaria juga telah dibedakan dengan mengenakan fez sampai akhir Perang Dunia I.

Dua resimen Angkatan Darat India yang direkrut dari wilayah Muslim mengenakan fezzes dan dibawah kekuasaan Inggris (meskipun turban adalah hiasan kepala hampir-universal di antara Hindu dan Muslim).

Banyak relawan resimen Zouave mengenakan fez seperti jenis fez yang dipakai oleh tentara Perancis – Afrika Utara selama Perang Saudara Amerika.

kopiah

Sekilas tentang sebuah history seputar penggunaan Fez. Pada tahun 1826 Sultan Mahmud II dari Kekaisaran Ottoman mulai mereformasi angkatan bersenjatanya. Militer dimodernisasi termasuk pada penggunaan seragamnya yang mengadopsi gaya Barat dan sebagai seragam bagian kepala sebagai topi dipakailah fez dengan dengan dilengkapi kain melilit.

Tahun 1829 Sultan memerintahkan para pejabat sipil untuk memakai fez polos (kopiah hitam polos), dan juga melarang pemakaian turban. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk memaksa rakyat pada umumnya untuk mulai menggunakan fez sebagai penganti topi topi lama mereka, dan rencana itu ternyata berhasil. Ini adalah ukuran radikal egalitarian, yang menggantikan hukum sumptuary rumit yang menandakan pangkat, agama, dan pekerjaan. Ini memberikan kebebasan pada kaum no-muslim untuk mengekspresikan diri mereka dalam kompetisi dengan Muslim, pertanda reformasi Tanzhimat.

kopiah

Meskipun pedagang dan pengrajin umumnya menolak menggunakan fez itu. Fez menjadi simbol modernitas di wilayah sekitar Turki, dan mulai di ikuti oleh wilayah wilayah tersebut.

Meluasnya penggunaan Fez ini telah menimbulkan penibgkatan permintaan Fez yang sangat besar, akhirnya mulailah di bawa masuk para pengrajin Fez dari wilayah Afrika Utara untuk bermigrasi ke Konstantinopel, didirikan sebuah pabrik di lingkungan Eyup. Dan dikembangkan gaya untuk Fez dengan membuat nuansa bentuk, tinggi, bahan, dan warna yang bersaing di pasar.

Warna merah dan merlot warna mencolok untuk Fez pada mulanya didapat dengan cara ekstrak cornel. Namun, sejak penemuan bahan murah pewarna sintetis membuta sedikit pergeseran produksi topi untuk pabrik-pabrik Strakonice, Republik Ceko.

Peristiwa penggabungan Austria-Hongaria pada Bosnia-Herzegovina pada tahun 1908 mengakibatkan boikot barang hasil produksi Austria, yang kemudian dikenal sebagai “Fez Boicot” karena monopoli Austria dalam produksi topi. Meskipun dapat bertahan melewati boikot selama setahun namun membawa akhir universalitas dalam Kekaisaran Ottoman sebagai gaya lain menjadi diterima secara sosial.

Fez (peci/songkok)awalnya menjadi sebuah simbol modernitas Ottoman, fez dari waktu ke waktu datang untuk dilihat sebagai bagian dari identitas budaya. Dipandang sebagai sesuatu yang eksotis dan romantis di barat, sempat menjadi mode sebagai bagian dari perlengkapan pakaian mewah para pria di Amerika Serikat dan Inggris dalam dekade sekitar pergantian abad ke-20. Fez telah menjadi barang tradisional ketika Mustafa Kemal Atatürk dilarang penggunaannya di Turki pada tahun 1925 sebagai bagian dari reformasi modernisasi yang digagasnya.

Awalnya tampilan fez berupa topi yang tidak bertepi merah, putih, atau hitam dengan sorban tenunan sekitar. Kemudian sorban itu dihilangkan dan warna tetap merah. Shalat sambil mengenakan fez polos lebih mudah karena umat Islam menempatkan dahi mereka di tanah berkali-kali selama melakukan shalat.

Fez adalah cikal bakal dari peci yang kita kenal saat ini yaitu peci, kopiah, atau songkok. Dapatkan peci dari grosir peci grosir kopiah  murah Surabaya.

grosir peci

Tgk Wasly adalah pemilik usaha pembuatan Peci Pusaka Ayah yang merupakan salah satu Peci ternama berasal dari provinsi NAD. Peci ini sudah cukup terkenal hingga ke seluruh  Nusantara. Berikut ini adalah kisah seputar cikal bakal dari usaha peci Tgk Wasly.

grosir peci

 

Berawal dari Tengku Masri yang merupakan ayah kandung dari Tgk Wasly yang berhijrah ke Labuhan Haji Aceh Selatan pada saat masa penjajahan Jepang di tahun 1942, Tengku Masri pergi hijrah untuk menimba ilmu pengetahuan Agama Islam pada seorang Ulama Kharismatik Aceh yaitu Abuya Syech Haji Muda Waly Alkhalidy.

Pada suatu ketika saat Tengku Masri sedang istirahat di dalam bilik di komplek Dayah sambil mengulang kitab, saat itu beliau melihat sebuah peci dari Timur Tengah. Peci tersebut memiliki model atas bisa dilipat-lipat. Tengku Masri tertarik dengan peci Timur Tengah tersebut dan timbul ide dan gagasan serta inspirasi untuk membedah dan mempelajari peci tersebut untuk dapat meniru membuatnya . Tengku Masri lalu mencoba mendesign peci tersebut dengan meniru dari peci Timur Tengah yang dilihatnya tersebut.

Pertama kali membuat peci, Tengku Masri hanya bermodal beldu kain jas yang dijual di pegadang kaki lima. Sedangkan untuk bahan yang lainnya beliau menggunakan daun pisang kering, kulit kayu, dan juga anyaman tikar. Peci buatan Tengku Masri tersebut ternyata diminati oleh banyak orang terutama di kalangan santri Dayah. Sehingga, ia meneruskan pembuatan peci tersebut sampai saat ia kembali ke kampungnya di Teupin Punti, Aceh Utara.

Usaha peci tersebut kemudian mulai dikembangkan, dan saat ini sudah menjadi sebuah usaha yang cukup besar. Ilmu membuat peci tersebut juga diwariskan kepada anak dan cucu Tengku Masri termasuk pada Tgk Wasly

Para pembuatnya saat ini sudah berkembang dengan mengambil tenaga kerja tambahan dari penduduk sekitar. Ini adalah sebuah langkah untuk mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskinan.Dengan moto berbunyi one village one product Tgk Wasly menjalankan usaha pembuatan pecinya dengan memiliki karyawan 50 orang yang ditampung bekerja secara konveksi menurut keahliannya masing-masing.

Itulah cerita singkat tentang salah satu peci Nusantara

 

peci-hitam-polos

Indonesia terkenal kaya dengan keanekaragaman budaya. Kekayaan budaya Indonesia salah satunya bisa dilihat dari pakaian adat dan busana yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Busana tersebut adalah sebuah identitas bagi pemakainya dan biasanya juga dilengkapi dengan tutup kepala. Hal yang sama juga ada di Sulawesi Selatan.

peci-hitam-polos

Sebagian orang Indonesia memang gemar memakai tutup kepala. Tak heran jika daerah-daerah di Indonesia memiliki tutup kepala khasnya masing-masing. Jika Aceh terkenal dengan kopiah Meukeutop, orang Jawa dikenal dengan blangkon, orang Bali dikenal dengan udeng, Sulawesi Selatan pun memiliki tutup kepala khas yaitu Passappu dan Songkok Bone. Namun songkok Bone lebih terkenal dan banyak digunakan.

Songkok Bone adalah songkok khas berasal dari wilayah Bone. Nama lain dari songkok khas Bone ini adalah songkok recca dan songkok pamiring ulaweng. Sebutan songkok pamiring merujuk kepada bagian ujung atau sisi bagian bawah songkok yang berhias warna keemasan. Jika berhias benang emas, sebutannya adalah songkok pamiring, tetapi bila menggunakan emas sungguhan, disebut songkok pamiring ulaweng (songkok berpinggir emas). Sedangkan sebutan songkok recca’ lebih pada proses pengolahan bahan baku yang digunakan untuk membuat songkok tersebut.

Bahan baku untuk songkok ini terbuat dari pelepah daun lontar yang ditumbuk, yang dalam istilah Bugis direcca atau ure’cha. Pelepah daun lontar tersebut dipukul-pukul atau direcca-recca hingga tersisa hanya seratnya. Serat yang awalnya berwarna putih ini dalam dua atau tiga jam warnanya akan berubah menjadi kecoklatan. Serat tersebut kemudian direndam didalam lumpur untuk mendapatkan warna hitam. Serat yang dihasilkan ada yang halus dan kasar. Serat-serat inilah yang digunakan untuk membuat songkok recca’. Jika menggunakan serat yang halus, songkok recca’ yang dihasilkan adalah yang halus, demikian sebaliknya.

Serat-serat tersebut dianyam menggunakan dudukan khusus yang disebut assareng. Assareng ini terbuat dari kayu nangka yang dibentuk menyerupai songkok. Ukurannya assareng tergantung pada songkok yang akan dibuat. Di Kabupaten Bone, songkok recca’ banyak diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone.

Sebutan Songkok to Bone merupakan nama yang banyak diucapkan orang-orang luar Bone. Mungkin terkait dengan sejarah pembuat atau pun pemakai songkok itu, yaitu orang-orang Bone.

Menurut sejarah, songkok recca ini digunakan oleh orang Bone ketika terjadi peperangan dengan Tator tahun 1683. Penggunaan songkok ini sebagai tanda khusus yang membedakan mereka dengan pasukan Tator. Jadi boleh dibilang songkok Bone merupakan salah satu simbol pasukan perang Bone.

Pemakaian songkok Bone juga memiliki aturan sendiri. Hal ini berkaitan dengan strata sosial di masa-masa kerajaan Bone. Hanya raja, pembesar dan keluarga bangsawan yang boleh menggunakan songkok berbalut emas. Penggunaan emas pun memiliki aturan yaitu tidak boleh melebihi kadar emas songkok yang digunakan oleh raja.

Seiring dengan perkembangan jaman, aturan-aturan pembeda pemakaian songkok berdasar strata sosial tidak berlaku lagi. Hampir semua lapisan masyarakat bisa menggunakannya, bahkan dijadikan souvenir untuk tamu dari luar. Songkok pamiring yang berhias emas bukan lagi milik para raja atau kaum bangsawan. Namun bagi mereka yang memang memahami dan mengerti filosofinya, mereka tidak akan sembarangan untuk memakainya.

Songkok recca ini bisa digunakan dalam acara formal maupun non formal. Dipakai dalam setiap acara adat maupun seremoni yang diadakan di Sulawesi Selatan, songkok yang dipadukan dengan jas tutup ini dapat dijumpai karena menjadi kebangaan para pejabat maupun pemangku adat di wilayah ini. Songkok ini pun bisa digunakan sehari-hari maupun penutup kepala ketika sholat. Tak heran jika songkok ini menjadi salah satu souvenir favorit ketika berkunjung ke Makassar. Tak jarang songkok ini dijumpai sedang digunakan di daerah lain, bukan hanya di Sulawesi Selatan.

Hampir setiap toko penjual souvenir di sekitar Makassar, terutama di Jalan Somba Opu, menjual songkok ini. Harga jual yang dipatokpun bervariasi, tergantung dari kualiatas dan jenisnya. Umumnya songkok ini bisa didapat dengan uang Rp. 65.000 – Rp. 800.000. Namun jika ingin memiliki songkok yang berhias emas (pamiring ulaweng), harganya mencapai belasan hingga puluhan juta dan tergantung pada kadar emasnya.

songkok peci kopiah

Songkok, tanjak, serban merupakan jenis busana yang dipakai di kepala. Pemakaian songkok pada umumnya sering kali dikaitkan dengan upacara keagamaan, upacara kepahlawanan dan upacara adat istiadat. Dikenalnya songkok, tanjak dan serban diyakini karena dibawa oleh para pedagang India yang datang ke Tanah Melayu untuk berniaga di masa lalu.

Penggunaan songkok sangat umum dipakai oleh masyarakat Melayu khususnya yang beragama Islam. Penggunaan songko akan terlihat anatar lain saat menunaikan solat ataupun menghadiri upacara resmi. Songkok begitu populer di mayarakat Melayu seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Secara khusus songkok juga dipakai oleh siswa-siswa sekolah agama di beberapa negara tersebut tadi. DI Indonesia juga berlaku seperti ini dimana kita bisa melihat anak-anak sekolah agama yang memakai seragam dan di lengkapi dengan songkok di kepalanya.

Dalam berbagai acara resmi misalnya, songkok juga dipakai. Pejabat pejabat di Indonesia juga identik dengan penggunaan songkok, beberapa yang pergi keluar negeri juga dalam kunjungan resmi kenegaraan terlihat banyak penggunaan songkok oleh para pejabat Indonesia.

Songkok berupa peci hitam bahkan sudah menjadi sebuah identitas bagi warga Indonesia. Presiden pertama Indonesia Soekarno adalah yang mempopulerkan songkok peci hitam sebagai sebuah identitas nasional. Beliau selalu setia mengenakan songkok peci hitam kemanapun pergi termasuk dalam semua kunjungan dan pertemuannya dengan pemimpin negara lain.

Bentuk songkok hampir sama dengan fez atau tarbus yang amat popular di Turki. Tarbus sebenarnya berasal dari Yunani Purba dan diadaptasi oleh kerajaan Turki Uthmaniyyah. Pada awalnya, serban panjang akan dililit pada bagian tepi tarbus, tetapi lama kelamaan serban yang dililitkan sudah tidak digunakan lagi. Tarbus awalnya berbentuk bulat, tetapi kini sedikit panjang atau lonjong dan keras. Di Turki sendiri tarbus identik dengan warna merah.

tarbus ini adalah cikal dari  songkok yang popular di Melayu. Dari bentuk awal tarbusCuma tarbus diubah sedikit menjadi sedikit bujur dan permukaan bagian atasnya diubah menjadi rata. Dan bentuk inilah yang bertahan hingga saat ini.

Dulunya songkok diperbuat potongan kertas, kain baldu dan satin. Potongan kertas disusun di antara lapisan kain satin agar songkok tersebut menjadi kaku. Kini, penggunaan kadbod menggantikan penggunaan kertas tersebut. Songkok dijahit rapi mengikut bentuk, ketinggian dan ukuran kepala yang sesuai kemudian kain baldu dijahit.

Seiring perkembangan dunia fashion yang merambah juga ke pakaian bernuansa islami, songkok semakin bertambah variasinya. Saat ini songkok tidak lagi selalu berwarna hitam, bermacam warna saat ini bisa ditemui, dan tidak lagi polos karena saat ini selain banyak perpaduan warna juga ada jenis songkok polos yang di beri motif bordir.

Demikianlah tulisan singkat seputar songkok, kami menjual produk produk songkok nasional. Kami menempatan diri sebagai grosir peci songkok dan menerima pesanan songkok dari seluruh Indonesia.

songkok awing

Grosir Peci, Grosir Kopiah. Wilayah Gresik cukup dikenal sebagai wilayah sentra pembuatan peci / kopiah / songkok yang sudah dikenal dari dulu. Disini ada banyak terdapat industri pembuatan songkok yang diantaranya banyak termasuk industri rumahan di dalamnya.

Ada beberapa produsen songkok besar yang ada di Gresik yang sudah mempunyai nama cukup terkenal dunia industri songkok. Sementara di luar itu ada begitu banyak produsen songkok rumahan yang juga menggantungkan nasibnya pada industri satu ini.

Kami menjual peci songkok berkualitas hasil karya produsen Gresik tersebut, ada banyak merek kopiah yang kami jual di website kami.

Salah satu merek kopiah yang terkenal adalah merek Awing, songkok Awing atau kopiah Awing dipercaya merupakan jaminan mutu dari jenis jenis songkok yang dijual saat ini. Banyak orang mencari songkok Awing walaupun dari segi harga sedikit lebih tinggi dibanding merek merek lainnya. Hal ini sebanding dengan kualitas bahan bahan pembuatan songkok yang merupakan bahan pilihan dan juga beberapa di impor dari luar negeri seperti dari Jepang, Korea, dan Amerika.

Songkok Awing merupakan songkok generasi baru yang mulai memperkenalkan pembuatan songkok tanpa campuran bahan kertas di dalamnya. Karena sebelumnya songkok menggunakan bahan berupa kertas karton yang kaku dan diletakkan di dalam songkok untuk dapat membentuk dengan baik. Tetapi penggunaan bahan karton ini ternyata membuat songkok menjadi kurang awet. Songkok Awing merubah dengan mengganti bahan pembuatan songkok langsung dengan bahan yang tebal dan tidak lagi menggunakan bahan biasa dan dilapisi kertas. bahan bahan yang dimaksud tersebutpun kemudian di impor dari luar negeri.

Kualitas premium menjadi ciri khas produksi Songkok Awing. Sebab dulunya, pengrajin songkok rumahan memiliki daya tawar yang rendah terhadap penentuan harga songkok di pasaran. “Kami perhatikan, pengrajin songkok tak berdaya menghadapi tekanan pengusaha yang memesan. Sehingga kentungan sangat sedikit,” katanya.

Dengan memproduksi kualitas terbaik, Songkok Awing memisahkan diri dari kerumunan persaingan industri songkok yang tak sehat. Terbukti, Songkok Awing kini mampu menguasai pasar domestik dengan sebaran pemasaran hampir di seluruh provinsi di Indonesia.

Walau tak secara khusus mengekspor ke luar negeri, songkok produksinya tersebar mulai Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Saudi Arabia berkat pembelian dalam jumlah besar melalui kantor cabangnya di Jakarta. Omsetnya mencapai Rp 6 miliar setahun. “Pasar konsumen terbanyak ada di Jawa Barat dan Jakarta,” ujarnya.

Songkok Awing memproduksi total 46 varian. Namun ditilik dari jenisnya, secara umum terdapat 5 jenis songkok yakni songkok biasa, Soga (songkok gaul atau songkok gambar), songkok bordir, songkok presiden, dan songkok mahar. Kelima jenis songkok itu dibedakan berdasarkan kualitas bahan bakunya, terutama beludru.

Membidik konsumen menengah ke atas, Songkok Awing pun tak luput memperhatikan pembeli cilik. Suraji mengklaim, pihaknya juga pionir dalam penjualan songkok untuk anak-anak. “Anak-anak cenderung tidak suka pakai songkok karena gerah dan terlihat seperti orang tua. Maka kami bikin seri Soga atau Songkok Gaul atau Songkok Gambar, dengan gambar yang lagi ngetren sekarang,” katanya. Ia menunjuk tumpukan Soga bergambar Spongebob Squarepants, Shaun the Sheep, hingga Naruto yang dipajang dari balik kaca etalase.

 

1-bung-karno

Sudah tak asing lagi  bagi bangsa Indoneisa, betapa Bapak Proklamator kita Ir.Soekarno sangat bersahaja dalam mengenakan pakaian , terutama atribut  kebesarannya.. Apapun yang dikenakan serasa pas di badan dan berwibawa. Ada satu cirri khas yang tak kan pernah tergantikan oleh zaman yaitu pemakaian  Peci yang berwarna Hitam (Peci Hitam) atau dibeberapa daerah disebut Kopiah yang selalu dikenakan baik di acara kenegaraan maupun kunjungan internasional.

Lalu Peci hitampun menyebar seantero nusantara dan bahkan sampai ke mancanegara, Setiap orang Indoensia bepergian ke luar negeri , maka peci hitam lah yang menjadi trade mark anak bangsa, Lalu bagaimana dengan saat ini ? Meski di beberapa Negara tetangga khususnya bangsa melayu Peci sudah tak asing lagi dalam khasanah budaya melayu. Peci konon berasal dari bahasa Belanda pet (topi) dan je (kecil), disebut juga dengan kopiah atau songkok. Diperkirakan peci ini dibawa oleh para pedagang Arab ke semenanjung Malaysia pada abad ke-13. Tak heran kemudian penggunaan peci ini kemudian membudaya di Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapore, serta beberapa wilayah di Filipina dan Thailand.

Kenapa sampai Indonesia yang mempopulerkan Benda Hitam Penutup Kepala ini? Lagi-lagi kita ketahui bersama bahwa di Indonesia, penggunaan peci sebagai bagian dari pakaian resmi dipelopori oleh presiden pertama RI Soekarno. Pada suatu rapat Jong Java di Surabaya pada tahun 1921 Bung Karno mencetuskan ide mengenai pentingnya sebuah symbol bagi kepribadian bangsa Indonesia. Karena itulah Bung Karno lalu memperkenalkan pemakaian peci yang kemudian menjadi identitas resmi bagi partainya yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia). Dan karena popularitas Soekarno-lah sehingga kemudian pemakaian peci begitu memasyarakat di Indonesia. (ref: Intisari; Wikipedia; Brunai Times/ill: fashion.dinomarket.com)

Lalu pertanyaannya  kemana Peci Hitam yang membuat bangga sebagai warga negara Indonesia. Anak muda sebagai generasi penerus bangsa saat ini jarang kita lihat memakai peci hitam, kecuali di kalangan santri (pesantren ) saja. Beberapa di kenakan oleh laki-laki berumur dan sebagaian kecil dipakai ketika ke masjid (acara keagamaan) saja atau hanya dipakai  pada saat resepsi pernikahan. Ah yang penting pakai bukan? Peci Hitam sebagai salah satu budaya Indonesia dan menurut saya ini adalah paling Indonesia selain dari Pakaian Batik yang sekarang mendunia dan sebagai warisan budaya milik Bangsa tercinta ini.

Tidak terlepas dari keberag budaya daerah lainnya. Peci tidak hanya berfungsi sebagai penutup rambut waktu sholat saja  oleh umat Muslim, tapi telah menjadi identitas bangsa tanpa memandang agama suku dan ras. Para pemimpin dan pejabat sekarang ini sudah mulai enggan memakai mahkota Nusantara itu. Apakah ini pertanda kalau bangsa kita sudah mulai kehilangan budaya dan jati dirinya.

Kopiah (Peci) paling hanya dipakai saat pelantikan dan even-even tertentu saja seperti foto gambar ,pelantikan pejabat dan acara resmi lainnya. Acara selebihnya Benda ini tidak lagi menjadi penutup kepalanya.

Dikutip dari berbagai sumber didapatkan data bahwa Jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1913 digelar rapat Partai Politik SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag yang mengundang 3 politisi Hindia-Belanda (yang pada saat itu memang sedang diasingkan ke Negeri Belanda), yaitu Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Menurut Dr. Van der Meulen yaitu Direktur Departemen Pendidikan dan Ibadah pemerintahan Gubernur Jenderal Van Mook tahun 1946, masing-masing perwakilan menunjukkan identitas yang berlainan. Ki Hajar Dewantara menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang memang pada waktu itu pemakaian topi ini begitu populer di kalangan nasionalis setelah timbulnya gerakan Turki Muda tahun 1908 yang menuntut reformasi kepada Sultan Turki. Sedangkan Cipto Mangunkusumo mengenakan kopiah dari beludru hitam dalam rapat tersebut yang pada akhirnya nanti pemakaian peci hitam sebagai jati diri kaum nasionalis Indonesia yang belakangan dipopulerkan oleh Bung Karno pada akhir tahun 1920-an. Sedangkan Douwes Dekker tidak memakai penutup kepala. Jika dirunut ke belakang, topi fez ini berasal dari budaya Yunani Kuno dan diteruskan oleh budaya Yunani Byzantium. Ketika Turki Ottoman mengalahkan Yunani Byzantium (Anatolia) maka Turki Ottoman mengadopsi budaya penggunaan topi fez ini terutama ketika pemerintahan Sultan Mahmud Khan II (1808-1839). Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama ‘fezzi’ atau ‘phecy’ atau kalau lidah orang Indonesia menyebutnya dengan PECI.

Jadi, kalau dahulu warga Indonesia dikenali di  luar negeri dengan ciri khas pecinya, kenapa sekarang tidak? Tidak perlu takut akan di claim oleh negara tetangga.. Peci adalah salah satu symbol yang juga menjadikan Indonesia terkenal di dunia dalam sejarah panjang negeri ini. Semoga dengan warisan budaya berupa peci dan orang yang memakainya memaknai bahwa dia benar-benar orang indonesia yang punya harkat dan martabat tinggi di mata bangsa lain dan terutama di mata bangsa sendiri. Semoga saja paling Indoensia.

Sumber : http://www.kompasiana.com/yusephendarsyah/peci-hitam-dan-identitas-paling-indonesia_5500b784a333115b73511b08